Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Wednesday, 27 July 2016

Anies Baswedan dan Muhadjir Effendy

Dua puluh bulan tentu saja tidak akan cukup untuk melunasi janji kemerdekaan. Tetapi paling tidak, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, pak Anies Baswedan telah sedikit demi sedikit mencicil untuk melunasi janji kemerdekaan tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Apresiasi yang tinggi patut diberikan untuk pak Anies, sebagai inspirator anak-anak muda Indonesia.
Prof. Muhadjir Effendy, sebagai pengganti pak Anies, memang belum familiar di kalangan awam, kecuali (mungkin) bagi warga Muhammadiyah. Beliau adalah salah satu Ketua PP Muhammadiyah periode 2015-2020 yang menangani bidang pendidikan.

Wednesday, 1 October 2014

Siapapun Bisa Jadi Jurnalis

“Saya dulu kuliah Sastra Inggris. Ketika melamar ke Metro TV, saya disuruh liputan berita politik. Padahal, saya benci politik.” Begitulah Zilvia Iskandar memulai kisahnya dalam pelatihan jurnalistik di kampus Institut Pertanian Bogor, Kamis, 26 September 2014. “Makanya kalian, dari jurusan apapun, pasti bisa jadi jurnalis”, lanjutnya.

Zilvia masih muda. Pembawaannya menyenangkan. Dia memaparkan materi tentang reporting and presenting, bagaimana sebuah berita dilaporkan di tempat kejadian perkara atau disajikan di dalam studio. Sebelumnya, Eva Julianti memberikan materi tentang dasar-dasar jurnalistik. Kemudian dilanjutkan oleh Hariman Chalid yang menjelaskan apa itu citizen journalism.

Sunday, 28 September 2014

Tom & Jerry, Srigala Berwajah Ganteng dan Keselamatan Anak-anak

Bulan ini saya baru selesai melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di ujung Kabupaten Bogor paling barat; Desa Kiarasari Kecamatan Sukajaya.
Kita mengisi kegiatan KKN dengan berbagai hal. Mengajar, gotong royong membangun infrastruktur, diskusi, keliling kampung hanya untuk sekedar bercengkrama dengan warga desa dan lain-lain.
Suati hari, ketika saya dan teman-teman sedang santai nonton TV, ada ibu-ibu yang tiba-tiba masuk ke ruangan kami.
“Kemarin Bunga (sebut saja anaknya ‘Bunga’) ngirim surat yah ke kakak-kakak?” Tanya si ibu setengah menodong. Si bunga nunduk. Wajahnya diselimuti ketakutan (agak lebay yah). Sepertinya baru dimarahi ibunya habis-habisan.
“Iya bu… gak apa-apa bu, namanya juga anak-anak,” saya hanya menjawab demikian sambil menahan tawa.