Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Friday, 10 May 2019

Renungan Ayat Edisi Ramadhan #1


Pernahkah saudara berpikir, bahwa ketika Allah memberikan kita banyak harta, uang menumpuk, aset melimpah, jabatan tinggi, artinya Allah sedang memuliakan kita?

Atau ketika rizki sedang susah, kita berpikir bahwa Allah sedang menghinakan kita?

Monday, 7 December 2015

Berharap







Allah tempat bergantung. (Al-Ikhlas: 2)

Ali bin Abi Thalib pernah berkata,”aku sudah pernah mengalami berbagai kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap pada manusia.” Sayyidina Ali telah mewanti-wanti kita agar jangan terlalu menaruh harapan tinggi kepada manusia. Kekecewaan adalah ketika kenyataan yang tak sesuai harapan. Manusia lah sumber kekecewaan itu. Banyak di antara pengalaman kita bisa jadi sama dengan apa yang diungkapkan Ali.

Seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan, karena yang dicintai tak kunjung membalas cintanya, akan patah hati. Seseorang yang dijanjikan untuk diberi hadiah, lalu yang berjanji lupa sehingga tak memberi hadiah, tentu saja yang dijanjikan akan kecewa. Bawahan yang akan diangkat menjadi kepala bagian, tiba-tiba saja direktur membatalkan pengangkatan tersebut, tentu sang bawahan merasa dongkol. Berharap nilai ujian tinggi namun nyatanya jeblok, pasti seorang siswa akan bersedih.

Friday, 12 December 2014

Mengkambinghitamkan Agama



Banyak konflik terjadi sebenarnya bukan karena agama. Tetapi agama sering dijadikan kambing hitam. Sayangnya, pandangan bahwa agama mengajarkan kekerasan sudah terlanjur diterima begitu saja di masyarakat (taken from granted). Kira-kira begitulah paparan Karen Armstrong dalam karya terbarunya, Fields of Blood: Religion and the History of Violence. Sesungguhnya dalam konflik selalu ada faktor sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.


Begitu juga dengan ketakutan terhadap agama, misalnya pada Islam (Islam phobia). Sebenarnya bukan hanya Islam yang mengalaminya. Di Tiongkok, kita sering mendengar tentang pelarangan jilbab. Kebanyakan kita mungkin berpikir hanya Islam yang diperlakukan tidak adil. Padahal sesungguhnya hal ini juga terjadi pada Katholik. Dikutip dari Republika Online, Ada sekitar 12 juta penduduk Katolik di Tiongkok. Setengah dari mereka diijinkan negara untuk beribadah di Gereja. Namun, separuh lainnya harus beribadah secara sembunyi-sembunyi.


Agama, tanpa dasar, sering dikambinghitamkan. Agama, juga tanpa dasar, sering ditakuti.


Imagine there's no countries

It isn't hard to do

Nothing to kill or die for

And no religion too

Imagine all the people

Living life in peace...


Potongan lirik lagu di atas diambil dari lagu berjudul Imagine karya John Lennon. Banyak yang menuding lagu ini adalah lagu yang mengajarkan untuk tidak percaya pada agama alias mengajarkan orang untuk menjadi atheis. Tetapi kalau kita cermati dengan sudut pandang lain, John Lennon (selalu inget Darda Dhamara Darussalam kalau bicara John Lennon) mengajak kita membayangkan bagaimana jika tidak ada (batas-batas) negara dan juga tidak ada agama, mungkin tidak akan terjadi pembunuhan untuk membela agama dan negara. Semua orang akan hidup dalam damai. Ini imajinasi John Lennon ya, bukan saya


Barangkali John Lennon kesal karena kekerasan sering didasarkan pada pembelaan terhadap agama dan negara. Bisa jadi pendapat ini salah. Tapi apa salahnya berpendapat?


Pertama, kita harus yakin dulu bahwa Islam adalah benar-benar rahmatan lil 'alamin. Selanjutnya, kita berusaha menyebarkan kasih sayang (rahmatan) itu. “Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS. Al Anbiya: 107)

Sisi Lain dalam Kuliah Umum Bersama SBY



Saya bingung memberi judul postingan ini.

Dalam sesi tanya jawab kuliah umum bersama pak SBY, Rabu 10 Desember 2014, ketika pak rektor sebagai moderator dadakan memilih penanya, sebelumnya beliau bilang mau berusaha agar pembagiaannya merata, tidak didominasi satu fakultas.

Menariknya, ada dua penanya yang membuat rektor merasa 'terjebak'. Yang pertama, dia memperkenalkan dirinya dan mengklaim mewakili organisasi yang dibawanya. Rektor bertanya, "pertanyaan anda mewakili pribadi atau organisasi anda? Kalau bawa organisasi saya minta surat mandatnya" kata rektor disambut tawa hadirin. Akhirnya dia terpaksa bilang bahwa ini pertanyaan yang mewakili pribadi.

Namun, walaupun mewakili pribadi, nampaknya rektor sudah tahu arah pertanyaannya yang pasti 'menyalahkan sistem', karena melihat latar belakang organisasinya. Beliau mungkin agak kesal karena salah menunjuk mahasiswa. Mahasiswa UIN yang sering ikut seminar pasti tahu jenis pertanyaan yang dibawa kelompok ini dan kemana arahnya.

Yang kedua, seorang mahasiswa yang langsung memaparkan beberapa hal dan pertanyaan. Namun sama seperti yang pertama tadi, dia juga menyalahkan sistem. Belajar dari penanya pertama, dia tak langsung mengenalkan diri. Dia baru mengenalkan diri di akhir pertanyaan. Kembali wajah rektor mengkerut. Mungkin beliau berpikir, "saya dua kali salah memilih penanya."

Setelah SBY menjawab seluruh pertanyaan, pak rektor langsung mempromosikan sebuah buku baru berjudul 'kontroversi khilafah'. Kalau tidak salah isi bukunya memuat beberapa artikel tentang sistem kekhilafahan. "Disini dunia akademik. Teman-teman yang berpaham khilafah silahkan mendiskusikan buku ini. Semuanya punya dasar. Disini juga dipaparkan tentang keputusan NU yang menjelaskan bahwa sistem kekhalifahan sudah tak relevan lagi di Indonesia."

Thursday, 27 November 2014

Kenapa Kamu Menjadi Muslim?


Michael Kawachi adalah seorang  profesor hukum dari Sekolah Hukum Universitas Columbia, Amerika Serikat. Saya menjemputnya di bandara Soekarno – Hatta sekitar pukul 01.00 dini hari, 20 November 2014. Bersama sekitar 150 peserta lain dari berbagai negara, dia akan mengikuti acara World Peace Forum yang diselenggarakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai Liaison Officer, saya bertugas menjemput setiap peserta yang datang dari luar negeri.

Sepanjang perjalanan dari bandara menuju hotel, Kawachi terus bertanya banyak hal, khususnya tentang Muhammadiyah. sebagai aktivis muda Muhammadiyah yang juga menghabiskan waktu sekolah selama 12 tahun di sekolah Muhammadiyah, tentu saja dengan senang hati saya menjelaskan tentang Muhammadiyah dari sejak kelahirannya sampai pertumbuhan amal usahanya hingga kini.

Sunday, 21 September 2014

Jangan Ngeyel dalam Urusan Ibadah

Berdasarkan sebuah hadits, Islam dibangun di atas lima perkara: mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan sholat, menunaikan zakat, melaksanakan shaum ramadhan dan mengerjakan ibadah haji (bagi yang mampu). Mudah sekali. Serius, Islam sangat mudah dijalankan. Tidak seperti tudingan sebagian orang yang menganggap bahwa Islam sangat memberatkan dan mengekang kebebasan beraktivitas. Untuk apa beribadah di tengah kesibukan yang kian hari kian menggunung?

Sebegitu sulitkah Islam dijalankan di tengah-tengah akivitas kita?

Friday, 4 April 2014

Jangan Dulu Menghujat Keadaan dan Jangan Pernah Menghujat


Kita mulai dengan landasan teori. Surat Al-baqoroh ayat 216:

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik untukmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk untukmu."

Di antara kita pasti banyak yang mengalami kejadian, di mana pada awalnya kita membenci keadaan, tetapi pada akhirnya kita malah bersyukur. Itulah makna di balik ungkapan "setiap kejadian pasti ada hikmahnya".

Beberapa hari yang lalu, ketika saya dan teman-teman mencari alamat seseorang di daerah Banten agak pedalaman, kami bertanya pada seorang ibu muda. Kami berada di sebuah pertigaan. Dia menunjukkan arah lurus. Kami ikuti saja apa kata beliau. Beberapa kilometer dari situ, kami bertanya lagi. Ternyata alamat yang dimaksud seharusnya belok kiri di pertigaan tempat si ibu tadi. Kami pun kesal.

Wednesday, 2 April 2014

Ajaran Islam Tentang Sistem Ekonomi

Oleh: H. Taufiq Rahman, S. HI.

Mohon maaf sebelumnya kepada Pak Haji karena saya mem-posting artikel ini tanpa seizin Pak Haji. Tapi saya yakin, selama artikel ini bermanfaat, tentunya Pak Haji dengan senang hati mengizinkan saya mem-postingnya, hehe... Pak Haji adalah best practice, bagaimana seorang lulusan SMEA membangun usaha dari kecil hingga menjadi besar, mendirikan BPR Syariah, dan ekspansi ke bisnis-bisnis lain.

Di rumah Pak Haji senantiasa berkeliaran anak-anak yatim, yang tidak pernah dibedakan dengan anak Pak Haji sendiri. Berkah mengurus anak yatim itu mungkin salah satu syariat dari Allah kenapa harta Pak Haji selalu bertambah.

Berikut ini artikel original dari Pak Haji Taufiq Rahman: